Kamis, 24 September 2009

Metode-Metode Baru Analisis Literer (Penafsiran Kitab Suci)

Metode-Metode Baru Analisis Literer


Tidak ada metode ilmiah yang sungguh-sungguh memadai bagi studi Alkitab untuk memahami teks-teks alkitabiah dalam seluruh kekayaannya. Kendati dengan segala keabsahannya sebagai suatu metode, metode historis-kritis tidak dapat mengklaim diri sebagai metode paling memadai berkenaan dengan hal ini. Metode ini terpaksa harus menyisakan banyak aspek dari teks yang dikajinya. Tidak mengejutkan bahwa pada saat ini berbagai metode dan pendekatan lain diusulkan sebagai usaha untuk menyelidiki secara lebih mendalam aspek-aspek lain yang juga pantas diberi perhatian.

Bagian ini (B) akan menghadirkan metode-metode tertentu dari analisis literer yang berkembang baru-baru ini. Dalam bagian berikut (C, D, E), secara singkat kita akan menguji pendekatan-pendekatan yang berbeda, beberapa di antaranya berhubungan dengan studi tentang tradisi, yang lain dengan "ilmu-ilmu humaniora", uan yang lain lagi berkaitan dengan situasi-situasi khusus saat ini. Akhirnya (F), kita akan mempertimbangkan metode membaca Kitab Suci secara fundamentalis, suatu metode yang tidak mau menerima pendekatan sistematis apapun dalam penafsiran.

Dengan memanfaatkan kemajuan yang dibuat pada zaman kita melalui studi linguistik dan sastra, eksegese alkitabiah terus-menerus menggunakan metode-metode baru dari analisis literer, khususnya analisis retoris, analisis naratif, dan analisis semiotik.

1. Analisis Retoris
Dalam dirinya sendiri sebenarnya analisis retoris bukanlah suatu metode baru. Yang baru adalah penggunaannya secara sistematis untuk menafsirkan Alkitab, serta awal dan perkembangan dari suatu "retorika baru".

Retorika adalah seni merangkai wacana (discourse) untuk tujuan persuasif. Fakta bahwa, dalam kadar tertentu, semua teks alkitabiah mempunyai ciri persuasif, mengandung arti bahwa beberapa pengetahuan ten tang retorika seharusnya menjadi bagian dari perangkat ilmiah yang umum bagi para ahli tafsir. Analisis retoris harus dilakukan secara kritis, karena eksegese ilmiah merupakan suatu kegiatan yang harus taat pada tuntutan-tuntutan pikiran kritis.

Cukup banyak studi dalam bidang Alkitab yang dibuat akhir-akhir ini memberikan perhatian cukup besar pada keberadaan ciri-ciri retorika dalam Kitab Suci. Tiga pendekatan yang berlainan bisa dibedakan. Yang pertama didasarkan pada retorika Yunani-Romawi; yang kedua mencurahkan perhatian pada prosedur-prosedur Semitik bagi sebuah komposisi; sementara yang ketiga mengambil inspirasinya dari studi terbaru-yaitu, apa yang disebut "Retorika Baru" (New Rethoric).

Setiap situasi dalam wacana melibatkan tiga unsur:
pembicara (atau pengarang), wacana (atau teks), dan pendengar (atau yang dituju). Sesuai dengan hal ini Retorika klasik membedakan tiga faktor yang menyumbang pada mutu suatu wacana sebagai suatu instrumen persuasi: otoritas pembicara, kekuatan argumen, dan perasaan-perasaan yang muncul dalam diri pendengar. Secara umum, keberagaman situasi dan pendengar sangat menentukan gaya pembicaraan yang digunakan. Retorika klasik, sejak Aristoteles, membedakan tiga model berbicara di muka umum (public speaking): model yudisial (yang diambil dari dunia pengadilan); model deliberatif (untuk bidang politis), dan model demonstratif (untuk kesempatan perayaan).

Mempertimbangkan pengaruh retorika yang luar biasa dalam budaya Hellenis, semakin banyak ekseget mulai menggunakan risalah-risalah retorika klasik sebagai bantuan untuk menganalisis aspek-aspek tertentu dari teks-teks alkitabiah.rkhususnya teks-teks Perjanjian Baru.

Ekseget yang lain memusatkan perhatian pada sifat-sifat khas tradisi literer alkitabiah. Berakar dalam budaya Semit, tradisi ini menunjukkan kecenderungan yang amat kentara pada komposisi-komposisi yang simetris. Melalui komposisi ini orang dapat mendeteksi hubungan antara unsur-unsur yang berbeda dalam teks itu. Studi mengenai aneka bentuk paralelisme dan aturan lain yang merupakan ciri khas komposisi gaya Semit memungkinkan kita menentukan struktur teks secara lebih tepat, dan dengan demikian tentu saja membawa pemahaman yang lebih memadai akan pesan yang dikandung.

Retorika Baru mengambil sudut pandang yang lebih umum. Retorika Baru bertujuan untuk menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar daftar macam-macam gaya bahasa, strategi oratoris, dan berbagai jenis wacana. Retorika ini menyelidiki apa yang membuat penggunaan bahasa secara khusus menjadi efektif dan berhasil dalam suatu komunikasi yang meyakinkan. Retorika ini berusaha menjadi "realistis" dalam arti tidak ingin membatasi pada suatu analisis yang sungguh-sungguh formal. Metode ini juga mempertimbangkan situasi pembicaraan atau diskusi yang aktual. Retorika mempelajari gaya dan komposisi sebagai sarana untuk berpertn di hadapan pendengar. Untuk tujuan ini, Retorika Baru memanfaatkan sumbangan yang dihasilkan oleh bidang pengetahuan lain baru-baru ini, seperti linguistik, semiotik, antropologi, dan sosiologi.

Diterapkan pada Alkitab, "Retorika Baru" berusaha menembus sampai pada inti bahasa pewahyuan persis sebagai wacana religius yang bersifat persuasif dan mengukur dampak dari wacana itu dalam konteks sosial dari komunikasi yang telah dimulai. Karena kekayaan yang dibawanya bagi studi kritis tentang teks, analisis retoris seperti itu pantas dinilai tinggi, terutama dalam pandangan yang lebih mendalam yang dicapai pada karya yang lebih kemudian. Analisis retoris berusaha mengejar ketinggalan yang sudah berlangsung lama dan membimbing kita untuk menemukan kembali atau mengklarifikasi kembali perspektif asli yang telah hilang atau dikaburkan.

"Retorika Baru" mengambil langkah yang tepat dengan memperhatikan kemampuan bahasa untuk memberikan persuasi dan meyakinkan orang. Alkitab bukan hanya pernyataan akan kebenaran-kebenaran iman, melainkan merupakan suatu pesan yang dalam dirinya sendiri mengandung fungsi komunikasi dalam suatu konteks khusus, suatu pesan yang membawa kekuatan argumen dan strategi retoris tertentu.

Namun demikian, analisis retoris mempunyai keterbatasan-keterbatasannya. Jika analisis retoris ini tetap tinggal pada level deskripsi, hasilnya sering hanya mencerminkan suatu perhatian pada gaya bahasa saja. Pada dasarnya analisis retoris yang bersifat sinkronis tidak bisa mengklaim diri sebagai metode independen yang dalam dirinya sendiri sudah memadai. Penerapannya pada teks-teks alkitabiah memunculkan beberapa pertanyaan. Apakah para pengarang teks-teks int mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan masyarakatnya? Sejauh manakah mereka mengikuti kaidah-kaidah retorika dalam mengerjakan karyanya? Retorika manakah yang relevan untuk menganalisis teks tertentu: retorika Greko-Romawi atau retorika Semitik? Apakab .kadang-kadang tidak muncul suatu risiko jika kita mengaitkan suatu struktur retorik yang terlalu canggih pada suatu teks alkitabiah tertentu? Pertanyaan-pertanyaan ini-dan juga yang lainnya-tidak perlu menimbulkan keragu-raguan untuk menggunakan analisis ini; pertanyaan-pertanyaan itu hanya menyarankan bahwa analisis retoris bukanlah suatu jalan lain yang bisa digunakan tanpa sikap kritis.

2.Analisis Naratif
Tafsir naratif menawarkan suatu metode untuk memahami dan mengomunikasikan pesan alkitabiah yang sesuai dengan bentuk kisah dan kesaksian personal, sesuatu yang merupakan ciri khas dari Kitab Suci dan, tentu saja, suatu model fundamental dari komunikasi antarmanusia. Perjanjian Lama dalam kenyataannya menghadirkan kisah penyelamatan. Penyampaian kisah tersebut dengan penuh daya bisa memberikan substansi pernyataan iman, liturgi,dan katekese (bdk. Mzm 78:3-4; KeI12:24-27; Ul 6:20-25; 26:5-11). Dalam konteksnya, pewartaan iman Kristen pada dasarnya sama dengan rangkaian yang menceritakan kisah kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Katekese ten tang hal-hal itu juga muncul dalam bentuk narasi (bdk. lKor 11:23-25).

Berkaitan dengan pendekatan naratif, pendekatan ini membantu membedakan metode-metode analisis di satu sisi, dan refleksi teologis di lain sisi.

Pada kenyataannya, sekarang banyak metode analitis ditawarkan. Beberapa mulai dengan studi ten tang model-model narasi kuno. Yang lain mendasarkan dirinya pada "naratologi"saat ini dalam satu atau lain bentuk, di mana dalam banyak hal berhubungan dengan semiotika. Dengan memberi perhatian secara khusus pada unsur-unsur dalam teks yang berkaitan dengan alur (Plot), penokohan, dan sudut pandang (point of vievJ) yang diambil oleh seorang narator, analisis naratif mempelajari bagaimana sebuah teks menceritakan suatu kisah sedemikian rupa sehingga mampu mengikat pembaca (reader) dalam dunia naratifnya dan sistem nilai yang terkandung di dalamnya.

Beberapa metode memperkenalkan perbedaan antara "pengarang real" (real author) dan "pengarang tersirat" (implied author), "pembaca real" (real reader) dan "pembaca tersirat" (implied reader). Sang "pengarang real" adalah pribadi yang secara aktual menyusun kisah. Yang dimaksud dengan "pengarang tersirat" adalah gambaran pengarang yang diciptakan secara bertahap oleh teks dalam kegiatan membaca (dengan budaya, karakter, kecenderungan, imannya sendiri, dan seterusnya). "Pembaca real" adalah semua orang yang berhadapan dengan teks-dari orang yang pertama kali membacanya atau mendengarnya dulu, sampai pada orang yang membaca atau mendengarnya sekarang. Yang dimaksud dengan "pembaca tersirat" adalah pembaca yang diandaikan dan sebenarnya juga diciptakan oleh teks. Pembaca tersirat ini adalah seorang yang mampu menggerakkan mental dan afeksi yang diperlukan untuk masuk ke dalam dunia naratif teks tersebut dan menanggapinya dengan cara yang dibayangkan oleh pengarang real melalui perantaraan pengarang tersirat.

Sebuah teks akan terus mempunyai pengaruh sejauh para pembaca real (misalnya, kita yang hidup pada akhir abad ke-20) dapat mengidentifikasi sang pengarang tersirat.

Analisis naratif melibatkan cara baru untuk memahami bagaimana sebuah teks bekerja. Metode historis-kritis menganggap teks sebagai 'jendela" yang memberikan jalan masuk ke masa lampau (tidak hanya pada situasi yang dirujuk olek kisah, tetapi juga pada situasi komunitas untuk siapa kisah itu diceritakan. Sementara analisis naratif menuntut bahwa teks juga berfungsi sebagai "cermin", dalam arti bahwa teks memroyeksikan gambaran tertentu-suatu "dunia naratif'-yang memberikan pengaruh bagi persepsi pembaca sedemikian rupa sehingga pembaca mampu mengambil alih nilai-nilai tertentu.

Yang terkait dengan jenis kajian ini, yang terutama berciri literer, adalah suatu model rejleksi teologis tertentu, ketika orang mempertimbangkan implikasi-implikasi dari karakter "kisah" (dan juga "kesaksian") yang dimiliki Kitab Suci berkaitan dengan kesepakatan iman dan ketika orang menarik dari metode ini suatu hermeneutika yang lebih bersifat praktis dan pastoral. Di sini terdapat suatu reaksi melawan pendekatan yang mereduksi teks yang diinspirasikan menjadi serangkaian tesis teologis, yang sering kali dirumuskan dalam kategori-kategori dan bahasa yang tidak alkitabiah. Yang diharapkan dari eksegese naratif adalah bahwa eksegese ini merehabilitasi model-model komunikasi dan penyampaian makna yang tepat bagi Kitab Suci dalam konteks historis yang baru, untuk menampilkan secara lebih efektif kekuatannya yang menyelamatkan. Analisis naratif menuntut perlunya menceritakan kisah penyelamatan (aspek "informatif') dan menceritakan kisah dari sudut pandang penyelamatan (aspek "performatif"). Sebenarnya cerita Alkitab, entah secara eksplisit atau implisit tergantung kasusnya, berisi suatu ajakan eksistensial yang ditujukan kepada pembaca.

Manfaat analisis naratif untuk penafsiran Alkitab sudah jelas. Analisis naratif sangat sesuai dengan ciri narasi yang ditampilkan banyak teks-teks alkitabiah. Analisis naratif dapat memudahkan peralihan, yang sering begitu sulit, dari makna teks dalam konteks historisnya (objek khas metode historis-kritis) kepada maknanya bagi pembaca sekarang. Di sisi lain, perbedaan antara "pengarang real" dan "pengarang tersirat" cenderung membuat masalah-masalah penafsiran menjadi agak lebih kompleks.

Ketika diterapkan pada teks-teks Alkitab, analisis naratif tidak dapat berpuas diri dengan memaksakan kepada teks-teks Alkitab model-model tertentu yang sudah jadi. AnaIisis naratifharus berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan kekhasannya sendiri. Pendekatan sinkronis yang dibawa metode ini kepada teks-teks, perlu dilengkapi dengan penelitian-penelitian diakronis juga. Tambahan lagi, pendekatan sinkronis harus menyadari kecenderungan yang mungkin timbul, yaitu mengesampingkan elaborasi doktriner apa pun dari kandungan narasi alkitabiah. Dalam kasus ini, analisis naratif mengambillangkah yang berseberangan dengan tradisi biblis sendiri, yang justru menjalankan elaborasi semacam itu, dan juga dengan tradisi Gereja, yang terus melanjutkan cara yang sama. Akhirnya, pantas dicatat bahwa efektivitas subjektif eksistensial dari dampak Sabda Allah dalam penerusan narasinya, dalam dirinya sendiri, tidak dapat dianggap sebagai indikasi yang memadai bahwa kebenaran alkitabiah yang utuh sudah ditangkap secara memadai.

3. Analisa Semiotik
Yang juga terhitung di antara metode yang bisa diidentifikasi sebagai metode sinkronis, yaitu metode yang memusatkan pada studi teks alkitabiah sebagaimana ada di hadapan pembaca dalam bentuk finalnya, adalah analisis semiotik. Analisis semiotik mengalami perkembangan yang pantas dicatat dalam bidang-bidang tertentu selama dua puluh tahun terakhir ini: Metode ini aslinya dikenal dengan istilah yang lebih umum Strukturalisme. dapat mengklaim sebagai perintisnya, linguis Swiss Ferdinand de Saussure, yang pada awal abad ini menghasilkan suatu teori yang mengatakan bahwa semua bahasa merupakan suatu sistem relasi yang menaati hukum-hukum yang sudah tertentu. Beberapa linguis dan kritikus sastra mempunyai pengaruh yang pantas dIcata dalam perkembangan metode ini. Sebagian besar ahli Kitab Suci yang memanfaatkan semiotika dalam kajian Alkitab mendasarkan wibawanya pada Algirdas J. Greimas dan Mazhab Paris yang didirikannya. Berbagai pendekatan dan metode serupa, yang didasarkan pada linguistik modern, berkembang di mana-mana. Akan tetapi, metode Creimaslah yang hendak kita paparkan dan kita analisis secara singkat di sini.

Semiotik didasarkan pada tiga prinsip atau pengandaian utama:
Prinsip imanensi: masing-masing teks membentuk satu unit makna yang lengkap dalam dirinya sendm: Analisis ini mempertimbangkan keseluruhan teks tetapi semata-mata hanya teks saja; analisis ini tidak memperhatikan data-data "eksternal" apa pun dari teks, seperti pengarang, pembaca, peristiwa apa pun yang dilukiskan atau kemungkinan proses penyusunannya.

Prinsip struktur makna: tidak ada makna yang diberikan kecuali dalam dan melalui relasi, khususnya relasi "perbedaan". Analisis teks dicapai dengan membangun jaringan relasi-relasi (relasi oposisi, konfirmasi, dst.) antara berbagai unsur. Dari sinilah makna teks dibangun. Prinsip tata bahasa teks: masing-masing teks mengikuti suatu "tata bahasa", artinya sejumlah aturan atau struktur tertentu. Di dalam kumpulan kalimat yang kita sebut wacana ada berbagai tahap, masing-masing tahap mempunyai tata bahasanya sendiri-sendiri yang satu sama lain berbeda.

Seluruh isi teks dapar dianalisis pada tiga tahap berbeda.

Tahap naratif. Di sini orang mempelajari di dalam kisah bagaimana transformasi yang menggerakkan adegan dari situasi awal ke situasi akhir terjadi. Dalam perjalanan kisah, analisis ini berusaha melacak kembali fase-fase yang berbeda, yang secara logis terkait satu sama lain, yang menandai transformasi dari satu keadaan ke keadaan lain. Dalam masing-masing fase ini, analisis ini membentuk hubungan antara "peran" yang dimainkan oleh "pelaku" (actants) yang menentukan berbagai tahap perkembangan dan menghasilkan perubahan.

Tahap wacana. Di sini, analisis ini terdiri dari tiga operasi: (a) menentukan dan menggolongkan gambaran atau tokoh, yakni unsur-unsur penentu makna dalam teks (aktor, waktu, tempat); (b) mengikuti arus setiap gambaran atau tokoh dalam teks itu untuk menentukan bagaimana teks itu memanfaatkan tiap-tiap gambaran; (c) menyelidiki nilai tematis dari gambaran-gambaran itu. Operasi terakhir irii dicapai dengan menentukan "atas nama apa" suatu gambaran atau tokoh itu mengikuti suatu arah di dalam teks yang dipertimbangkan dengan cara ini.

Tahap logiko-semantik. Tahap ini biasa disebut struktur dalam (deep level), namun juga paling abstrak. Tahap ini berangkat dari pengandaian asumsi bahwa suatu bentuk tertentu dari logika dan makna mendasari pengorganisasian narasi dan wacana dalam semua teks. Pada tahap ini, un sur pokok dari analisis semiotik adalah mengidentifikasi logika yang mengatur artikulasi-artikulasi dasar aliran naratif dan figuratif dari suatu teks. U ntuk mencapai jalan lain ini sering kali diperlukan suatu instrumen yang disebut "segi empat semiotik" (carre semiotiquei, suatu diagram yang menggunakan relasi an tara dua istilah "berlawanan" (contrary) dan dua istilah "bertentangan" ("kontra-diktoris"), misalnya, hitam dan putih, putih dan bukan-putih; hitam dan bukan-hitam,

Para pendukung teori yang berada di balik metode semiotik terus menghasilkan perkembangan baru. Penelitian baru-baru ini memusatkan terutama pada pengucapan (enunsiasi) dan interteksualitas. Walaupun metode ini pertama kali diterapkan pada teks-teks narasi alkitabiah, yang kiranya paling sesuai, kini penggunaan metode ini semakin meluas juga pada teks-teks yang berbentukwacana.

Deskripsi semiotik yang telah diuraikan di atas dan terutama rumusan pengandaian-pengandaiannya seharusnya memperjelas keunggulan dan keterbatasan metode ini. Dengan mengarahkan perhatian yang lebih besar pada fakta bahwa setiap teks alkitabiah adalah suatu keseluruhan yang koheren, yakni ketaatan pada operasi linguistik yang tepat dan mekanistik, metode semiotik memberikan sumbangan pada pemahaman kita mengenai Alkitab sebagai Sabda Allah yang diungkapkan dalam bahasa manusia.

Semiotik dapat digunakan dalam studi Alkitab secara berhasil guna hanya sejauh metode itu dilepaskan dari asumsi-asumsi tertentu yang dikembangkan dalam filsafat strukturalis, yaitu menolak untuk menerima identitas pribadi individual dalam teks dan referensi ekstratekstual. Alkitab adalah Sabda yang berhubungan dengan realitas, Firman yang diucapkan Allah dalam konteks historis dan disampaikan Allah kepada kita saat ini melalui perantaraan para pengarang manusia. Pendekatan semiotik harus terbuka terhadap sejarah: pertama-tama pada sejarah orang-orang yang mengambil bagian di dalam teks; kemudian terhadap sejarah para pengarang dan para pembaca. Risiko besar yang hams dihadapi oleh mereka yang menggunakan analisis semiotik adalah tetap tinggal pada level studi formal atas isi teks-teks, tetapi gagal untuk menarik suatu pesan tertentu dari sebuah teks.

Bila analisis semiotik tidak terse sat dalam bahasa yang jauh dan kompleks dan bila unsur-unsur utamanya bisa disampaikan dalam istilah-istilah sederhana, analisis semiotik dapat memberi orang Kristen suatu cita rasa tertentu untuk mempelajari teks biblis dan menemukan beberapa dimensinya, tanpa hams lebih dahulu mempelajari sejumlah besar instruksi tentang soal-soal historis yang berkaitan dengan proses penyusunan teks dan dunia sosio-kulturalnya. Oleh karena itu, dalam praksis pastoral analisis semiotik terbukti bermanfaat, dengan menawarkan sesuatu yang bisa ditarik dari Kitab Suci kepada umat yang tidak mahir dalam bidang ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar